Selasa, 04 Maret 2008

Menebar Cinta Di Hari Lebaran

MENEBAR CINTA DAN KEBAHAGIAAN DI HARI LEBARAN [1]
Oleh: Drs. Moh. Roqib, M.Ag. [2]


Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, was-shalatu was- salamu ala asyrafil anbiya’ wal mursalin wa ‘ala alihi washahbihi ajmain. Amma ba’du. Kita bersyukur kerena diberi kesempatan berlebaran. Semoga Allah Swt., menerima ibadah kita, memberi rizki yang halal, dan memberi kesehatan dhohir batin kita. Amin.
Lebaran merupakan budaya khas Jawa (Indonesia) yang di negara Timur Tengah sendiri tidak ada budaya lebaran seperti di sini. Lebaran merupakan rangkaian tradisi yang meliputi 1) mudik, 2) sungkeman dan salam-salaman untuk bermaaf-maafan, 3) halal bihalal atau silaturrahim, 4) nyadran atau ziyarah qubur, 5) dan kupatan.
Budaya ini memberikan pesan spiritual dan sosial yang tinggi dalam kehidupan umat. Pesan mudik adalah pulang (‘id). Pulang berarti kembali kepada habitat dan lingkungan keluarga. Pulang kepada pangkuan tradisi adiluhung keluarga dan masyarakat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Pulang ke haribaan ibu (juga ibu pertiwi) yang mengisyaratkan ”aja lali” berarti ”eling lan waspada”, ingat bahwa perjalanan kehidupan yang sejauh apapun tetap meniscayakan pulang ke jatidiri. Pergi tanpa pulang sama saja menjual diri tanpa arti dan tanpa makna sejati. Dalam arti luas pulang bisa berarti seseorang kembali menuju ke ”asal” dari apa dan oleh siapa ia diciptakan serta di mana ia dibesarkan. Siapa yang membesarkan dan berperan di awal kehidupan kita. Mudik mengembalikan manusia pada fitrah kesejatian hidup yang bemakna dan penuh (kebak) kebaikan. Dalam bahasa Qur’an disebutkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, sungguh kita milik Allah, dan hanya kepada-Nya kita kembali. Kekuatan (kedigdayaan) dan kekuasaan yang kita miliki hanya sebatas pijaman. Perjalanan jauh hanyalah pengisian kaweruh untuk peningkatan kemanfaatan diri agar memiliki nilai guna maksimal dan optimal demi sesama.
Sungkeman dan bersalam salaman merupakan tradisi lebaran untuk mengingat betapa banyak khilaf yang telah diukir kuat dalam hati dan prilaku kita. Dengan permohonan maaf yang biasa tidaklah cukup untuk menghapusnya, untuk itu diperlukan duduk dan menundukkan kepala di hadapan orang tua, guru, pimpinan, saudara yang telah berjasa agar lebih khusyu’ (sungguh-sungguh) juga untuk sopan santun atau karimah terhadap mereka. Sungkem merupakan simbol andap asor (tawadhu’) yang saat ini sudah mulai langka. Upaya menjebol tridisi negatif yang berurat berakar pada diri seperti kesombongan, ucapan kasar, nista, dengki, malas, dan semacamnya diperlukan kesungguhan. Lebaran momentumnya untuk mendekonstruksi (membongkar) prilaku negatif dan menancapkan nilai mulia dalam diri saat dan sesudah lebaran.
Halal bihalal atau silaturrahim merupakan kreasi pertaubatan kolektif yang didesain berdasarkan ”bisa rumangsa” bahwa kita telah memiliki kesalahan berlipat. Mengakui ”kesalahan” ini sulit jika ”ego” tidak digugurkan terlebih dahulu. Menggugurkan ego atau sifat egois (mau menang dan benar sendiri) membutuhkan keberanian diri karena tanpa keberanian usaha perbaikan ini akan gagal. Kebersamaan membuat orang penakut menjadi pemberani. Kebersamaan membuat yang sulit jadi mudah. Silaturrahim yang dilakukan secara kolektif mensirnakan kebiasaan ”ewuh pekewuh”. Menurut Nabi Saw., silaturrahim dapat memperluas rizki dan memperpanjang umur, yang dalam konteks modern diantaranya dilakukan oleh perusahaan dan unit usaha dalam bentuk iklan yang berfungsi menyapa pada konsumen dan memberikan pelayanan sosial pada masyarakat.
Ziyarah Qubur atau nyadran merupakan bentuk silaturrahim atau ikatan kasih sayang kepada orang yang sudah wafat. Ikatan kasih sayang harus tetap kokoh kepada hamba Allah, meskipun mereka telah kembali ke pangkuan-Nya. Inilah kasih sayang sejati yang tidak terikat oleh waktu dan tempat. Menghaturkan do’a agar arwah (mereka) mendapat ampunan, rahmat, dan ridlo-nya selalu dibacakan dengan khusyu’ untuknya. Ziyarah Qubur bisa diartikan merupakan tanda terimakasih kita kepada orang yang telah berjasa tanpa didasari oleh rasa ”tendensi material” kepada yang bersangkutan. Saat yang terkubur masih hidup, mungkin kita menghormati dan mendo’akan karena ada tendensi (material) atau karena ewuh pekewuh kepadanya, tetapi saat yang bersangkutan telah tiada kehadiran kita adalah murni untuk kemanfaatan mereka. Di sinilah nilai ketulusan kita diuji, mana yang dominan apakah kekuatan material atau spiritual kita. Ziyarah qubur merupakan perjalanan spiritual yang dapat mengingatkan akan kematian, menyadarkan diri tentang kesiapan kita menghadap Yang Maha Kuasa. Ziyarah qubur memberikan pesan, sesuai dengan sabda Nabi Saw., bahwa kehidupan masih berjalan meskipun seseorang telah meninggal, ia akan mendapatkan pahala ”anak yang mendo’akannya, ilmunya yang bermanfaat, dan amal jariyahnya kepada sesama”. Kehidupan tetap dinamis dan aliran ”pahala” tetap terjadi sesuai dengan amalnya saat masih di dunia.
Seminggu setelah idul fithri, kita merayakan ”Hari Raya Ketupat” atau Kupatan. Pada awalnya hari raya ini diperuntukkan untuk mereka yang berpuasa enam hari setelah idul fithri karena mereka telah mendapatkan pahala seperti berpuasa satu tahun penuh (kaffatan). Kupatan identik dengan pengembangan shadaqah ke luar rumah dengan memberikan ketupat beserta lauknya kepada orang-orang dekat kita, orang tua, guru/ ustadz. Jika setelah idul fithri, kita menyediakan makanan dan minuman untuk menghormati para tamu, pada saat Hari Raya Ketupat, makanan ini yang datang untuk orang-orang terkasih kita.
Berlebaran, dengan beberapa tradisi di atas menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat dapat menyembuhkan penyakit modernity bagi masyarakat modern yang telah diperbudak oleh jam dengan kebiasaan robopath, sebuah kegiatan rutin dan monoton yang membosankan. Semuanya berjalan rutin, tidak terasa lambat laun mengkristal menjadi deretan penyakit yang sering membuat kejutan tiba-tiba. Meninggal, strok, dan penyakit lainnya. Berlebaran yang sehat dan positif akan membawa kesehatan dan produktifitas kerja.

Menggapai Cinta di Hari Lebaran
Pemaknaan kita terhadap budaya lebaran di atas pada dasarnya adalah penggalian kita terhadap kreasiasi para ulama dan para ”Wali Sanga” agar kita mampu ”nglakoni” ajaran agama yang jika dilakukan sendirian terasa berat maka perlu dibuat kolektif. Lebaran adalah untaian cinta yang dibuka bersama-sama dalam lembaran kehidupan kolektif kita. Cinta yang mudah diucapkan ini ternyata amat sulit dilakukan hal ini terbukti banyak gagal ”bercinta” dengan istri, anak, kawan, tetangga, ulama’, dan umara’.
Kesulitan mengelola cinta ini memberi inspirasi bagi Erich Fromm untuk menulis The Art of Love (Gaya Seni Bercinta) [3] yang baginya persoalan cinta itu terkait dengan 1) bagaimana seseorang dapat sukses untuk dicintai dan, 2) bagaimana ia dapat mencintai orang yang dicintainya. Bagaimana agar seseorang dicintai? Rahasianya adalah bagaimana ia bisa “menarik” bagi orang lain. Yang menarik adalah yang sukses dalam hidup baik secara spiritual, sosial, dan material. Orang yang menarik adalah orang yang menyenangkan diri dan orang lain untuk itu memerlukan bahasa yang indah-komunikatif, suka menolong, sopan, dan tidak suka mengganggu orang lain. Strategi menuju sukses yaitu merangkul semua kawan dan mempengaruhi orang dengan prilakunya.
Seperti halnya seni lukis, musik, dan arsitektur menurut Fromm, dua langkah penting untuk mempelajari cinta yaitu menyadari bahwa cinta sebagai suatu seni dan bagaimana strategi mempelajari seni tersebut. Penguasaan tentang teori cinta dan kemampuan mempraktekannya akan menimbulkan intuisi bercinta. Dengan menempatkannya sebagai seni seseorang akan mampu menjadi “master dan guru besar cinta”.
Cinta merupakan jawaban atas problem manusia. Setiap teori tentang cinta dimulai dengan teori tentang eksistensi manusia. Corak esensial dari eksitensi manusia adalah realitas bahwa manusia terlempar dari dunia binatang, dari situasi adaptasi instingtifnya. Manusia merupakan bagian dari alam (mahluk) yang diciptakan Allah, saat ia telah mampu mengatasi alam dan terenggut dari alam—meski tidak pernah meninggalkan alam, ia tidak dapat kembali lagi ke alam sesuai dengan naluri instingtifnya sebagai bagian dari binatang yang bersatu dengan alam. Manusia kemudian dipaksa untuk mengembangkan masa depannya sesuai dengan kemampuan akal budinya untuk menemukan harmoninya yang sudah hilang sebagai ganti atas harmoni pramanusia (prehuman harmony) dalam artian saat ia berada di surga dan belum mengalami keterpisahan dengan alam.
Manusia dilahirkan ke alam dalam ketidak pastian kecuali kepastian historis, masa lampau dan kepastian kematian pada masa depannya. Dengan akal budi manusia sadar akan diri, sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya. Ia sadar sebagai entitas yang terpisah, masa hidup yang pendek, dan menghadapi kehidupan di luar kemauannya. Sadar bahwa ia akan berpisah dengan yang dicintai dan akan menemukan berbagai kelemahan terkait dengan alam dan masyarakat. Kesadaran tentang keterpisahan dan eksistensi ketakbersatuan (disunited existence) ini menjadi penjara yang mengerikan bagi manusia. Manusia selalu amat cemas karena keterpisahan ini. Ia terus berusaha untuk membebaskan diri dari penjara mengerikan ini dengan mencari pertautan diri dengan orang lain dan dunia luar.[4]
Untuk mengatasi keterpisahan ini manusia melakukan, 1) penyembahan terhadap hewan, pengorbanan manusia, atau penahlukan militer, 2) hidup dalam kemewahan, bekerja secara obsesif, berkreatifitas seni, atau hidup secara asketis, mencintai Tuhan dan sesama. Upaya mengatasi keterpisahan tersebut bergantung pada tingkat individu yang dicapai manusia, seperti pada masa bayi, “keakuan” hanya berkembang sedikit. Rasa keterpisahan dapat diobati dengan kehadiran fisik ibu, buah dada (ASI), dan kulitnya. Setelah anak besar, rasa keterpisahan dan individualitasnya berkembang maka kehadiran fisik ibu tidak lagi mencukupi. Keinginan untuk menyatu dengan alam, tanah, tumbuhan, dan hewan, mudah diketahui kecenderungan manusia suka memakai topeng berbentuk wajah binatang, membuat dan menyembah (patung) binatang, dan menyembah dewa-dewi yang berkarakteristik tumbuhan dan binatang. Makin jauh seseorang keluar dari alam akan semakin mendalam kebutuhannya dan mencari cara untuk menyatu dengan alam.[5]
Solusi terhadap problem keterpisahan ini, menurut Fromm, di antaranya diselesaikan dengan cara : menenggelamkan diri dalam situasi orgiastik berupa 1) trance yang muncul dari dalam atau dengan bantuan obat bius, 2) sejumlah ritual, sebagaimana dilakukan oleh suku-suku primitif, 3) upacara-upacara yang diselenggarakan bersama, yang mengakibatkan rasa persatuan dalam kelompok, 4) pengalaman seksual, dengan orgasme seksual dapat merasakan kepuasan menyatu yang hampir sama dengan trance dan obat bius. Ritus pesta seksual secara kelompok merupakan bagian dari ritus sebagian suku-suku primitif. Pengalaman orgiastik ini membuat manusia mampu bertahan dari derita keterpisahannya, dan untuk menjaga stamina pengalaman ini harus diulang.[6] Sebagian individu biasanya berusaha mengatasi problem-problem keterpisahan dengan menggunakan bantuan alkohol dan obat bius. Penyelesaian ini pemakainya sulit untuk lepas dari perasaan bersalah dan penyesalan dan akan berusaha untuk meningkatkan dosis pada waktu berikutnya. Penyelesaian lewat hubungan seksual (di luar pernikahan) memiliki efek yang hampir sama dengan pemakaian obat. Penyelesaian model ini hanya akan menambah rasa keterpisahan, karena tindakan yang tidak didasari oleh cinta takkan pernah bisa menghubungkan jiwa suatu pasangan hanya dalam sementara waktu. [7] Penyatuan orgiastik memiliki tiga karakter dasar: intens dan dahsyat, terjadi dalam totalitas kepribadian baik jiwa maupun raga, serta berlangsung sementara atau periodik.
Kedua, dengan cara penyatuan konformitas kelompok, adat istiadat, kebiasaan, dan kepercayaan. Individu lenyap dalam kesatuan yang lebih besar. Jalan ini ditempuh tak lain untuk ketentraman dan keselamatan. Selamat dari situasi kesendirian yang mencekam (frightening experience of aloneness). Rezim otoriter membangun kekuasaan dengan menggunakan teror dan kekerasan untuk mendorong konformitas. Sedang pemerintahan yang demokratis menggunakan sugesti dan propaganda. Meski demikian ada sebagian inividu yang terbawa ilusi yang menganggap bahwa mereka adalah orang yang individualis, memakai pandangan yang merupakan hasil pemikiran mereka sendiri, menganggap bahwa kesamaan yang terjadi antar gagasan mereka adalah suatu kebetulan. Karena masih ada perasaan individualitas ini maka pemuasan berkenaan dengan perbedaan ini ada seperti simbol yang ditempel di pakaian, stempel, keanggotaan organisasi, yang merupakan ungkapan individualitasnya. Iklan “beda”, it’s different” dan lainnya memperlihatkan kebutuhan manusia untuk tampil beda, meski dalam realitasnya mereka tidak ada bedanya dengan yang lain.[8]
Dalam proses penyatuan, seseorang akan melakukan dua model penyatuan. Pertama kesatuan simbiotik, di luar cinta, atau disebut sebagai bentuk cinta yang tidak dewasa. Kesatuan simbiotik ini bisa berbentuk pasif dan aktif, yang pertama dalam bahasa klinis-psikologisnya disebut masochisme dan yang kedua disebut sadisme. Seorang masochis adalah individu yang melarikan diri dari perasaan yang tak tertahankan yang diakibatkan oleh isolasi dan keterpisahan yang dideritanya, dengan cara membuat dirinya menjadi bagian dari orang lain yang mampu mengendalikan, mengarahkan, dan melindunginya. Ia menjadi bagian darinya. Ia tidak independen, tidak punya integritas, dan hakekatnya belum dilahirkan. Dalam konteks spiritual obyeknya adalah berhala (idol) sedang konteks cinta adalah semacam berhala (idolatry) yang terdiri atas ketundukan mental dan fisik-seksual. Seorang yang sadistik ingin melepaskan diri dari kesendirian serta perasaan terkungkungnya dengan cara menjadikan orang lain menjadi bagian dari dirinya, menyembah dan bertekuk lutut kepadanya. Seorang sadistik memiliki ketergantungan pada orang lain yang tunduk kepadanya. Seorang masochis mengungkapkan dirinya dengan membiarkan dirinya untuk diperintah, dieksploitasi, disakiti, dan dihina, sebaliknya seorang sadistik mengukuhkan eksistensinya dengan memerintah, mengeksploitasi, menyakiti, dan menghina. [9] Keduanya merupakan peleburan diri tanpa itegritas yang bisa saja keduanya menyatu dalam diri seseorang.[10]
Kedua, dengan cara pencapaian kesatuan interpersonal, dalam peleburan dengan orang lain yang sering disebut cinta (sejati). Peleburan interpersonal merupakan jawaban lengkap terhadap problem ini dan motivasi paling kuat dan hasrat paling mendasar pada diri manusia untuk merawat keluarga, suku, dan masyarakat. Manusia yang gagal dalam cinta ini mengakibatkan penyakit mental dan menghancurkan diri dan orang lain. Tanpa cinta kemanusiaan tidak bisa eksis hingga sekarang, meski demikian ada peleburan di luar cinta. Cinta bagi Fromm:

“Cinta yang matang adalah kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di bawah kondisi saling tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia satu dengan yang lainnya. Cinta adalah cara untuk mengatasi problem isolasi dan keterpisahan, dengan tanpa mengorbankan integritas serta keunikan diri masing-masing. Ada semacam paradok dalam cinta, yakni: fenomena di mana dua sosok menjadi satu namun tetap dua (became one and yet remain two)”. [11]

Cinta sebagai wujud kesatuan interpersonal dan jawaban lengkap terhadap problem keterpisahan manusia memiliki indikator : pertama, cinta adalah suatu kegiatan (activity) bukan afeksi pasif. Cinta tetap tegak di dalam (standing in) bukan suatu “jatuh untuk” (falling for). Cinta merupakan aktivitas yang berarti suatu tindakan yang membawa perubahan atas situasi tertentu, lewat jalan pengerahan energi. Cinta, kata Spinoza, adalah tindakan sebentuk praktek kekuatan manusia yang hanya dapat diwujudkan dalam kebebasan. Cinta tidak pernah bisa terwujud oleh paksaan. Orang yang melakukan sesuatu karena ambisi atau uang adalah seorang budak nafsu dan obyek bukan subyek. Sebagai obyek juga seorang yang melakukan meditasi tanpa tujuan hanya rintihan kekecewaan juga merupakan sikap pasif, padahal jika didasarkan atas kebebasan, meditasi merupakan bentuk aktivitas tertinggi.
Kedua, cinta selalu memuat elemen dasar perhatian, tanggungjawab, penghargaan, dan pemahaman. Cinta adalah perhatian aktif terhadap kehidupan dan perkembangan dari yang dicintai. Cinta adalah tanggungjawab yaitu respon terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia baik yang terungkap maupun tidak. Cinta membutuhkan penghargaan yaitu kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, dengan menyadari segala keunikannya. Penghargaan berarti memperhatikan orang lain agar dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat minatnya sendiri. Cinta adalah anak kandung kebebasan. Cinta tidak pernah lahir dari dominasi atau paksaan. Cinta membutuhkan pemahaman atau pengetahuan (knowledge) dan mengenal terhadap seseorang (knowing him) untuk menuntun dan menjadi dasar terwujudnya perhatian, tanggungjawab, dan penghargaan.
Ketiga, cinta itu terutama memberi bukan menerima. Memberi dalam arti ganda bukan dalam arti “mengorbankan” yaitu pemberian yang diimbali dengan menerima; memberi tanpa menerima merupakan bentuk penipuan. Orang yang berkarakter produktif memberi adalah ungkapan yang palinggi dari kemampuan. Dalam memberi ada penghayatan akan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan. Memberi membuat diri lebih berharga dan akan menimbulkan rasa gembira karena sebagai ungkapan kegembiraan hidup (aliveness), rasa syukur. Dalam bidang seks, fungsi laki-laki terletak pada tindakan memberi, memberikan diri dan alat kelaminya kepada perempuan. Saat orgasme ia memberikan benihnya kepada perempuan. Jika ia memberi berarti ia mampu (potent), jika tidak mampu memberi maka ia tidak berdaya (impotent). Perempuan memberi dengan membuka organ seksualnya dengan kehangatan dan orgasme, jika ia tidak mampu berarti dingin atau frigit. Sebagai ibu, perempuan memberi pertumbuhan pada janin, air susu dan kehangatan pada bayi. Memberi membuat perempuan bangga dan jika tidak memberi bisa mengkiabatkan rasa sakit pada dirinya. Seorang yang memberi harta pada orang lain adalah orang kaya, sedang yang menimbun harta karena takut dan cemas adalah orang miskin yang malang. Yang populer dalam masyarakat justru orang miskin yang mandiri yang lebih rela untuk memberi dari pada orang kaya, tetapi orang miskin yang melewati titik tertentu tidak mampu memberi karena penderitaan dan secara riil ia telah kehilangan kenikmatan dalam memberi.
Keempat, cinta itu memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, memberi kegembiraan, humor, juga kesedihannya untuk meninggikan rasa hidup diri dan orang lain. Memberi berarti membuat orang lain menjadi seorang pemberi juga dalam suasana kegembiraan penuh rasa terimakasih dan syukur. Kelima, cinta adalah suatu kekuatan yang menghasilkan cinta, membangkitkan semangat serta memajukan orang lain dan menjadikan diri menjadi pibadi yang dicintai. Hidup ini merupakan imbal balik, simbiosis mutualistik, guru mengajar sekaligus diajar oleh muridnya, aktor dimotivasi oleh penontonnya, psikolog disembuhkan oleh kliennya jika interaksinya dibangun atas dasar ihlas yang produktif.
Dalam konteks saling melengkapi dan menyempurnakan ini, syair Jalaluddin Rumi, mengungkapkannya dengan sangat indah :

Takkan pernah ada kekasih yang tak dicari kekasihnya
Jika kilat cinta telah menyambar satu hati, maka ketahuilah bahwa ada cinta di hati yang lain.
Jika cinta Tuhan telah tumbuh di hatimu, tak diragukan lagi Tuhan pasti menaruh cinta kepadamu.
Tak ada suara tepuk tangan yang lahir dari satu tangan.
Kebijaksanaan ilahi adalah takdir dan suratan nasib yang membuat kita saling mencintai satu sama lain.
Karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya.
Dalam pandangan orang-orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang dijatuhkan oleh langit.
Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya; jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit segera memulihkannya.
Langit memayungi bumi, layaknya seorang suami menafkahi istrinya.
Dan bumipun sibuk dengan urusan rumahtangga; ia melahirkan dan menyusui segala yang ia telah lahirkan.
Tak ubah bumi dan langit dikaruniai kecerdasan, karena mereka melaksanakan pekerjaan mahluk yang memiliki kecerdasan.
Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan, mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?
Tanpa Bumi, akankah pohon dan bunga bisa berkembang? Sementara tanpa langit, akankah air dan panas bisa tersediakan?
Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka.
Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya.
Siang dan malam nampak bermusushan, namun keduanya mengabdi pada satu tujuan.
Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka.
Tanpa malam, alam manusia tidak akan punya penghasilan, sehingga tidak ada yang akan dibelanjakan di waktu siang.

Lebaran bukan sekedar hari raya. Berlebaran yang sehat dan positif, sekali lagi, akan mampu mebawa kehidupan yang sehat dan produktif sekaligus menumbuhkan rasa cinta sejati kepada sesama dan kepada Tuhan. Semoga kita menjadi hamba Allah yang terbaik dan mampu memberi kontribusi terbaik pula bagi yang lain sebagai rahmat bagi alam semesta. Akhirnya ”Selamat Berlebaran, semoga kita mendapatkan rahmat dan ridla Allah Swt. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Purwokerto, 29 Oktober 2007
[1] Disampaikan pada acara Silaturrahim di PLN Purwokerto pada tangal 29 Oktober 2007.
[2] Drs. Moh. Roqib, M.Ag adalah dosen dan Pembantu Ketua I, Bidang Akademik STAIN Purwokerto sedang menunggu jadwal promosi Doktor (S-3) di UIN Yogyakarta.
[3] Erich Fromm, The Art of Love (Gaya Seni Bercinta) Ed. A. Setiono Mangoenprasodjo. Dyatmika Wulan Merwati (Yogyakarta: Pradipta Publishing, 2004), hlm. 2-3. Selanjutnya bahan rujukan dari buku Fromm ini didialogkan dengan berbagai sumber. Lebih luas, dapat dibaca buku keempat penulis, Harmoni dalam Budaya Jawa (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & STAIN Press, 2007).
[4] Dalam konteks ini, back to nature, menjaga lingkungan hidup, bersilaturrahim terhadap kawan, saudara, dan tetangga adalah pemenuhan terhadap kebutuhan instingtif manusia. Semakin dilanggar, seseorang akan semakin terpisah dan keresahan semakin mendera kehidupan manusia.
[5]Amar ma’ruf nahi mungkar diwajibkan untuk membantu mereka yang belum menemukan jalan penyatuan dengan alam dengan hanya mengikat erat hidupnya kepada yang Maha Kuasa. Menghilangkan kemungkaran juga harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf, karena cara apapun yang tidak menyentuh hati kebersatuan akan menimbulkan keterpisahan dan kegelisahan.
[6] Dalam kata lain solusi dengan seks bebas dan penggunaan obat-obat terlarang itu adalah solusi semu dan memberikan ketenangan semu dan sementara berbeda dengan berhubungan seks dalam pernikahan yang didasarkan oleh rasa cinta.
[7] Manusia pada dasarnya mengetahui penyelesaian sejati dan mana yang hanya ilusi belaka. Seks tanpa cinta dapat menenangkan meski kehausan seks itu sendiri akan mendera sepanjang hidupnya.
[8] Dikatakan ada orang yang “sok beda” padahal yang dilakukan sebenarnya imitative, adaptif, dan paling tinggi adalah analogis. Semuanya bermula dari sebelumnya. Keakuan (egois, ananiyyah ) akan menggelisahkan hidup seseorang.
[9] Kesatuan simbiotik ini termasuk prilaku yang banyak terjadi dengan tingkatan yang beragam. Yang sederhana adalah membiarkan dirinya menjadi budak bagi suami atau istrinya karena ini merupakan takdir dari Tuhan.
[10] Seperti Hitler yang memerintah secara otoriter tetapi ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
[11] Cinta matang dan dewasa menenangkan dan mendamaikan sedang cinta kanak-kanak membuat seseorang terbelenggu oleh cintanya sendiri.

Tidak ada komentar: