Senin, 09 April 2012

MIMPI MENDIRIKAN PESANTREN GLOBAL

MIMPI MENDIRIKAN PESANTREN GLOBAL
Oleh. DR. H. Muhamad Roqib, M.Ag.
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa [Pesma] An Najah dan Direktur Program Pascasarjana STAIN Purwokerto)


Kejayaan bermula dari mimpi. Mimpi yang berdasar pada cita-cita kehidupan ke depan harus lebih baik, mudah, dan nyaman. Lebih baik terkait dengan kualitas, lebih mudah terkait dengan teknologi, dan lebih nyaman terkait dengan seni budaya. Ketiganya diimpikan agar berjalan maju beriringan agar saling melengkapi dan memperkuat.

Saya bermimpi untuk mendirikan pesantren mahasiswa di Purwokerto setelah sekitar 14 tahun tinggal di Krapyak untuk menimba ilmu pada KH. Ali Maksum, KH. Ahmad Warson Munawwir, dan juga lainnya. Di Krapyak saya sebagai santri, ustadz, juga mengelola pesantren mahasiswa sebagai wakil direktur, direktur, dan staf ahli. Mimpi itu akhirnya terkabul. Pada pertengahan tahun 2010, beberapa bulan setelah kami menunaikan ibadah haji, pesantren mahasiswa An Najah Purwokerto berdiri. Meski awalnya, dalam hati saya dan istri ada keraguan terkait dengan pendirian pesantren ini, tetapi toh akhirnya impian kami itu terwujud juga.

Pesantren Mahasiswa dengan desain serba sederhana. Bangunan komplek pesantren untuk santri adalah rumah biasa yang kami beli dari tetangga, saya rehap, dan kemudian ditempati 2 - 5 orang santri. Beberapa bulan berikutnya ada lagi rumah di sampingnya yang dijual, rumah mengahadap jalan raya. Dengan menguatkan niat, kami berusaha untuk membelinya. Menguatkan hati karena secara finansial semua serba terbatas. Kepada Allah, Yang Maha Tak Terbatas, kami berdo'a agar diberikan kemampuan untuk merealisasikan impian tersebut.

Beberapa bulan berikutnya, pak Muheni wakaf tanah berukuran 7m x 18m di samping TPQ dan masjid al-Ikhlas. Rumah sederhana akhirnya kami beli untuk memanfaatkan tanah wakaf ini agar sesegera mungkin dapat ditempati santri. Saat memperbaiki rumah komplek AS ini, ada tawaran pinjaman rumah dari ibu Hj. Wartijah. Santri putra kami boyong untuk menempati dua komplek baru ini. Komplek lama, RA dan SA, ditempati oleh santri putri. Karena, daya tampung yang terbatas, beberapa saat kemudian kami membeli rumah tetangga lagi untuk santri putri, karena berulang kali menolak calon santri yang mau mendaftar menjelang pendaftaran mahasiswa baru tahun 2011.

Waktu hampir dua tahun telah berjalan, ada impian "mendirikan pesantren global", yaitu pesantren dengan tanah yang cukup menampung beberapa "impian", di antaranya kompleks santri putra-putri, komplek anak yatim-piatu, komplek panti jompo, gedung dan lapangan olahraga, gedung kesenian, gedung praktikum, bengkel kerja, taman, hutan edukatif, kebun binatang edukatif, laboratorium, dan lainnya.

Kami merindukan bau surga dalam komunitas profetik yang dibangun atas kesadaran untuk hidup bersama dengan penuh kecintaan terhadap Tuhan, ilmu, dan sesama makhluk. Mimpi, betul ini mimpi yang kami harapkan terkabul dalam keterbatasan yang kami miliki. Kami bermimpi ada tangan Tuhan yang membantu dan menolong kami sehingga hal yang terasa "aneh" bisa menjadi "nyata".

Buku rekening Syariah Mandiri an. Moh Roqib (Pengasuh) 1777018382 kami pandang sebagai secercah cahaya yang nantinya akan mampu menggugah "orang-orang baik" di alam semeste ini untuk bergabung dengan ketulusan dan keilkhlasan. Perjalanan untuk menuju impian masih amat panjang, semoga Allah Swt., memberikan kesehatan, kesempatan, kekuatan, dan jalan kemudahan untuk meraihnya. Meraih impian "Pesantren Global" di Purwokerto. Amin.

1 komentar:

Dudi saja mengatakan...

asalam...semoga kita semua menjadi manusia yang senantiasa memanusiakan manusia menuju kehidupan yang bahagia lahir batin dunia akhirat...amin.